Pada suatu mula, salah satu Matematikawan berpengaruh yang pernah ada dan diakui sebagai Matematika terbesar di Eropa pada era tersebut, Sang Pangeran Matematika, yakni lain tak lain adalah Carl Freidrich Gauss yang hidup dari tahun 1777 - 1855 dengan mewarisi darah dari Jerman.
Sejak kecil sudah dikenal sebagai anak jenius. Ia bahkan pernah membantu Ayahnya, saat menerima upah mingguan hasil dari kerja lembur sebagai tukang batu. Sang bocah ajaib menyeletuk, ada kesalahan dalam perhitungan pembagian upah. Dan saat dicek ulang ternyata Gauss muda lah yang benar. Beruntung Gauss punya paman, Friedrich yang menyadari akan potensi emas keponakannya. Gauss muda diajari logika, serta observasi tentang objek-objek tertentu.
 |
| Carl Freidrich Gauss |
Waktu berjalan hingga pada umur 7 tahun yakni awal momentum bagi kesuksesan Gauss. Saat itu Gauss sudah masuk sekolah dasar. Suatu ketika gurunya (yang menurut saya sadis juga) menyuruh Gauss dan temannya untuk menghitung angka sebanyak 100 biji dimulai dari 81297 + 91495 +.....+ 100899. Dan angka tersebut memiliki perbedaan / selisih 198. Saat Gauss dan kawannya sudah selesai, sang guru baru menjelaskan berapa hasilnya. Hasil tersebut berbeda dengan jawaban Gauss. Langsung saja Gauss maju dan meletakkan batu tulis di atas meja gurunya dan berkata, "Itu salah." Masih tak mau mengalah, Gauss muda tetap duduk di dalam kelas saat yang lainnya sudah keluar kelas. Melihat itu Buttner akhirnya menguji ulang perhitungannya. Saat sekolah sudah menunjukkan jam pulang Buttner harus mengakui bahwa dengan perhitungan terakhir, Gauss-lah yang benar. Hal ini membuat Buttner membelikan buku terbaik tentang aritmatika dengan gaji-nya dan menyatakan, ia tak sanggup lagi mengajar Gauss dan menyerahkannya pada Johann Martin Bartels, yang selanjutnya menjadi sahabat Gauss dalam perkutatan akan matematika......(bersambung)