Oleh : Jendra Riyan Dwiputra
Tercipta dari alfa
Apalah jadi Tuhan berkehendak?
Yang tidak ada, nyata sekejap
Terbentuklah insan disebut sempurna
Di antara makhluk ciptaan Sang Esa
Manusia ada dan berkuasa
Akal, fikirnya luluh lantakkan bumi
Taklukan ciptaan Sang Kuasa lainnya
Tapi ada dusta terelak
Ada ego yang sudah tampak
Ego itu mengendalikan, melahap, membutakan
Ego itu menginginkan satu
Keabadian tanpa membran batas
Apa jadinya manusia hidup abadi?
Ruang, waktu hanya tetapan imajiner belaka
Kesenangan teraih tanpa gaya dan usaha
Dosa bagai anggur merah darah
Makin ditimbun, makin nikmat rasanya
Apa jadinya manusia hidup abadi?
Cita-cita bak cuap bibir semata
Ajaran hidup hanya ritual semata
Motivasi jadi kalimat hipotesa
Tak ada kepuasan, tak ada impian raksasa
Hingga akhirnya mereka jenuh
Jalan setapak tak berujung
Basah tertetes peluh
Mati rasa kaki ini
Ingin tubuh terkoyak letih
Berharap berakhir dengan Omega
Musik Hiburan:
- Hai Tanjung Perak -Dionisius Idol
- I Love You Bibeh -Dionisius Idol
- Sik Asik -Dionisius Idol
- Viva La Vida -Dionisius Idol
- Lebih Indah -Adera
- Ingatlah Hari Ini -Project Pop
- Bohemian Rhapsody (Queen) -Maksim Mrvica
- Uprising -Muse
- United States Of Eurasia (+Collateral Damage) -Muse
- Rhapsody On A Theme of Paganini -Rachmaninov
- Croatian Rhapsody -Maksim Mrvica
- Olympic Dream -Maksim Mrvica
- Winter The Four Seasons -Antonio Vivaldi
- Sonata no.14 in C sharp minor C Op.2 no.2 (Moonlight Sonata) -Ludwig Van Beethoven
- Spring The Four Seasons -Antonio Vivaldi
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 25 Maret 2012
Kamis, 24 Februari 2011
PUISI BERANGKAT KE SEKOLAH
Karya : Jendra Riyan Dwiputra
Lewat pukul 5 pagi
Jiwaku terbangun dari kegelapan
Mataku lemah terbuka
Tidak! malam telah sirna
Mimpiku indah terbuyar
Ku angkat badanku letih
Ku langkah kaki tak terhenti
Waktu mengalahkanku
Secepatku merapikan buku
Dilihat Orang tuaku pucat pasi
Sambil tergenggam kumpulan hari
Kulihat tanggal hari ini
Kusadar merah menyinari
Lewat pukul 5 pagi
Jiwaku terbangun dari kegelapan
Mataku lemah terbuka
Tidak! malam telah sirna
Mimpiku indah terbuyar
Ku angkat badanku letih
Ku langkah kaki tak terhenti
Aku bingung sendiri
Kesana dan kemari
Tapi pikiran beradu sendiri
Oh belum ku sentuh PR sama sekali
Jantung berdegup keras lagi dan lagi
Tapi waktu harus berlari
Waktu mengalahkanku
Secepatku merapikan buku
Dilihat Orang tuaku pucat pasi
Sambil tergenggam kumpulan hari
Kulihat tanggal hari ini
Kusadar merah menyinari
Oh aku memang bodoh
Ingin ke sekolah
Eh tapi pada hari libur
Legaku berdiri
Ranjang hangat kembali ku tiduri
PUISI PUSAKA ISI HATIKU
Karya : Jendra Riyan Dwiputra
Dimulai dari suatu perkenalan
Pada mulanya, ini bukanlah kita
Karena alkisah kita adalah mereka
Dan mereka adalah bagian dari kita
Tapi jangan tunggu apa lagi
Jangan biarkan buah itu busuk
Jangan kau lihat ulat menerkam, menggeliat
Karena ulat adalah kemalasan
Kesombongan lagi kehancuran
Hai kawula muda
Inilah saatnya
Ketatkan barisanmu rapatkanlah
Tegaplah di samping pemimpinmu, rakyatmu
Genggam tangan sisi kiri dan kananmu
Tolak mereka lewat masuk
Mereka datang lalu pergi
Pasir dan tanah mereka bawa pergi
Janganlah tertipu ! Di manalah ketakutan hakiki
Karena tanah kita tiduri
Terkikis lemah oleh materi
Mengikis semua bintang di angkasa
Untuk bangun kota mandiri
Berbanggalah kotaku Tangerang Selatan
Tanpamu Jakarta tak germelap
Tanpamu Banten kehilangan arah
Karena kau buat tanah air bangga
Akhirnya tunas baru akan tumbuh jua
Inilah perhantianku untukmu
Puisiku, Pusaka isi hatiku
Oleh : Jendra Riyan Dwiputra
Dimulai dari suatu perkenalan
Pada mulanya, ini bukanlah kita
Karena alkisah kita adalah mereka
Dan mereka adalah bagian dari kita
Kita mata tunas baru
Tunas muda terlepas dari induknya
buah matang jatuh tertolak pohonnya
Bergulir dan bergerak
Berjalan lewati semak belukar
Berhenti dan tertahan
Di antara tatapan seribu lumut hijau
Tapi jangan tunggu apa lagi
Jangan biarkan buah itu busuk
Jangan kau lihat ulat menerkam, menggeliat
Karena ulat adalah kemalasan
Kesombongan lagi kehancuran
Hai pemimpinku
Janganlah kau ragu
Beranjaklah dari kursimu
Kerahkanlah tenagamu
Pusatkan pikiranmu
Rendahkanlah dirimu
Jadilah pelayan rakyatmu
Jangan biarkan tikus menggigit kasutmu
menggerogoti hati kalbumu
Hingga kau lupa buah ucapmu
Hai kawula muda
Inilah saatnya
Ketatkan barisanmu rapatkanlah
Tegaplah di samping pemimpinmu, rakyatmu
Genggam tangan sisi kiri dan kananmu
Tolak mereka lewat masuk
Mereka datang lalu pergi
Pasir dan tanah mereka bawa pergi
Janganlah tertipu ! Di manalah ketakutan hakiki
Karena tanah kita tiduri
Terkikis lemah oleh materi
Mengikis semua bintang di angkasa
Untuk bangun kota mandiri
Hai semua umat
Kita ini adalah satu
Dan satu untuk bersama
Dalam satu nama dan tujuan
Kota Tangerang Selatan
Cerdas, Modern dan Religius
Meski kabut turun datang
Pelajari, kuasai dan hancurkan
Dalam satu bayangan siang
Berbanggalah kotaku Tangerang Selatan
Tanpamu Jakarta tak germelap
Tanpamu Banten kehilangan arah
Karena kau buat tanah air bangga
Akhirnya tunas baru akan tumbuh jua
Inilah perhantianku untukmu
Puisiku, Pusaka isi hatiku
Oleh : Jendra Riyan Dwiputra
Langganan:
Postingan (Atom)